Novel Orang-Orang Proyek mengangkat cerita tokoh Kabul yang hidup di bawah rezim korup
Tags: Question 18 . SURVEY . Ungraded . 180 seconds . Report an issue . Q. Buku ini berkisah tentang perjalanan hidup dan pemikiran Kiai Ahmad Sanusi. PENGENDALIAN WAKTU PROYEK. 1. ff Sesuatu yang unik dan kejadiannya hanya sekali. Mempunyai tujuan khusus, diselesaikan didalam spesifikasi yang pasti. Mempunyai tanggal start dan finish yang pasti (tertentu) Dibatasi oleh anggaran dan sumberdaya yang terbatas. Hal yang dapat diurai (list) dengan jelas dan dapat dilaksanakan. Temuanpenelitian ini adalah potret kekuasaan Orde Baru di dalam Novel Orang-orang Proyek adalah penerapan kapitalisme negara yang bersifat otoriter. Pemerintah Orde Baru menggunakan tameng stabilitas keamanan dan pembangunan untuk melaksanakan feodalisme, penyeragaman ideologi, pelanggaran HAM, dan korupsi. AnalisisNovel Ca-Bau-Kan : Hanya Sebuah Dosa 1. Anaisis Unsur Intrinsik. Tema : drama, percintaan, dan sosial; Latar Tempat : Batavia, Semarang, dan Thailand; Latar Waktu : 1930-Alur : alur mundur; Sudut pandang : orang pertama dan orang ketiga; Penokohan : Siti Noerhajati atau Tinung : Tinung adalah seorang wanita Betawi yang bersifat lugu. Biasanya manajer atau kepala divisi akan menunjuk salah satu anggotanya untuk bertugas sebagai PIC. Dalam hal ini, orang yang dipilih tentu saja adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk memimpin, mengatur, dan mengelola dengan baik. Dalam masing-masing perusahaan atau bisnis, tugas dari seorang PIC tentu berbeda-beda. a73Aq. ArticlePDF Available AbstractThis study wants to reveal the truth procedures in Ahmad Tohari's novel Orang-Orang Proyek, as a part of an event and a factor in the presence of a new subject. This research would answer the problem how was the subjectification of Ahmad Tohari in Orang-Orang Proyek novel as truth procedures? This study used the set theory by Alain Badiou. The set theory explained that within a set there were members of "Existing" or Being and events as "Plural" members. The results proved that the subjectivity between Tohari and New Order events produced literary works Orang-Orang Proyek. This happened because there was a positive relationship between the author and the event as well as on the naming of the event. Not only as of the subject but also do a fidelity to what he believed to be a truth. The truth procedures or the voidâoriginating from the New Order eventâwas in the history of the making of a bridge in a village in Java island, Indonesia during the New Order period that filled with corruption, collusion, and nepotism. Tohari then embodied it in his novel. By the presences of the novel, we could know the category of Tohari's presentation as a new subject such as faithful, reactive, and obscure. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. 107 NOVEL ORANG-ORANG PROYEK SEJARAH ORDE BARU Ramis Raufa, Risma Santi Raufb, Eko Hariantoc Unit Program Belajar Jarak Jauh-Universitas Terbuka Kendari Jalan Nasution, Bundaran Anduonohu, Kel. Kambu, Kec. Kambu Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Indonesia pos-el Abstrak Penelitian ini mengungkapkan prosedur kebenaran di dalam novel Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari denganmenggunakanteori himpunan yang dicetuskan oleh Alain Badiou yang menjelaskan bahwa di dalam suatu himpunan terdapat anggota âyang Adaâ atau Being dan peristiwa beserta situs peristiwa sebagai anggota âyang Jamakâ. Hasil penelitian membuktikan bahwa proses subjektifasi Tohari dan peristiwa Orde Barumenghasilkan karya sastra Orang-Orang Proyek. Hal ini terjadi karena terdapat hubungan positif antara diri pengarang dan peristiwa sekaligus penamaan atas peristiwa. Tidak hanya itu, Tohari sebagai subjek melakukan sebuah kesetiaan fidelity terhadap apa yang dia yakini sebagai sebuah kebenaran. Prosedur kebenaran atau situs peristiwaberupa rekam jejak sejarah pembuatan jembatan di sebuah desa, di pulau Jawa, Indonesia pada masa orde baru yang penuh dengan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Tohari kemudian mengejawantahkannya ke dalam novel Orang-Orang Proyek-nya. Melalui hal inilah kita dapat mengetahui kategori presentasi seorang Tohari sebagai subjek baru yang yakin, reaktif, dan kabur. Kata Kunci prosedur kebenaran, subjektifasi, pengarang, peristiwa, orde baru The Novel âOrang-Orang Proyekâ The History of The New Order Abstract This study wants to reveal the truth procedures in Ahmad Tohari's novel Orang-Orang Proyek, as a part of an event and a factor in the presence of a new subject. This research would answer the problem how was the subjectification of Ahmad Tohari in Orang-Orang Proyek novel as truth procedures? This study used the set theory by Alain Badiou. The set theory explained that within a set there were members of "Existing" or Being and events as "Plural" members. The results proved that the subjectivity between Tohari and New Order events produced literary works Orang-Orang Proyek. This happened because there was a positive relationship between the author and the event as well as on the naming of the event. Not only as of the subject but also do a fidelity to what he believed to be a truth. The truth procedures or the voidâoriginating from the New Order eventâwas in the history of the making of a bridge in a village in Java island, Indonesia during the New Order period that filled with corruption, collusion, and nepotism. Tohari then embodied it in his novel. By the presences of the novel, we could know the category of Tohari's presentation as a new subject such as faithful, reactive, and obscure. Keywords truth procedures, subjectivity, author, event, new order era. PENDAHULUAN Sebuah karya sastra dikatakan baik apabila ia dapat mengungkap atau menyuarakan fenomena problematis kehidupan sosial. Faruk, 2015. Keberhasilan suatu karya dapat diidentifikasi melalui eratnya keterkaitan timbal balik dalam derajat tertentu karya termaksud terhadap Telaga Bahasa April 2020 108 kompleksitas dinamika bermasyarakat. Kenyataan dalam ruang-ruang publik kemudian menemukan korelasinya yang padu dalam dimensi dan lapis-lapis makna sebuah karya. Paling tidak, hal ini dapat kita pinjam dari bagaimana Goldmann 1977 mendefinisikan prinsip homologi dalam karya sastra, tanpa melupakan bagaimana Abrams memulai gagasan ini dalam konstruksi âkarya sastra sebagai proyeksi kehidupan masyarakatâ. Berbicara mengenai karya, sejak imperium strukturalisme merajai bidang kajian dalam ruang-ruang akademis, berarti juga berbicara bagaimana gagasan pengarang di dalamnya. Subjek pengarang paling tidak juga bisa dikatakan sebagai jembatankorelasi antara karya dan semesta. Menurut Faruk 2015, pengarang merupakan anggota hidup dalam suatu sistem kultural. Itulah mengapa proses penciptaan karya dapat dikatakan sebagai percikan-percikan kecil kebudayaan, sebuah kerja tarik-menarik penciptaan yang tidak terlepas dari berbagai bahan dasar yang tersebar di ruang makrokosmos, yang tentu saja tidak nir-makna. Tidak keliru jika kelak disimpulkan bahwa karya sastra yang lahir di tengah-tengah masyarakat merupakan hasil pengungkapan jiwa pengarang tentang kehidupan, peristiwa, serta pengalaman hidup yang telah dihayatinya. Dengan demikian, akan dijumpai kemungkinan mengenai korelasi antara pengarang, karya sastra, dan masyarakatnya. Menurut Badiou 2009, pengarang dapat terpresentasi sebagai subjek baru yang terdiri atas subjek yakin, subjek reaktif dan subjek kabur sebagai konsekuensi atas proses subjektifasinya dengan lingkungan sosial masyarakat tempatnya hidup. Ahmad Tohari sebagai sosok yang sempat mengecap pahit-manis pemerintahan Orde Baru, tidak dapat melepaskan proses kreatifnya dari segenap gairah yang mewarnai tahun-tahun kekuasaan Soeharto. Karya-karyanya nyata dipengaruhi entitas tak terhingga yang bertebaran di masa kejayaan sebuah zaman yang terkenal dengan program Pelita-nya. Ia tumbuh menjadi sosok yang demikian mencintai kampung halamannya, tempat ia mengenal orang-orang yang relatif setara dalam sistem pergaulan; sebuah latar belakang yang memberikannya cukup alasan untuk menentang segala bentuk sistem pemerintahan feodal dan kapital. Penentangan demi penentangan yang bergolak dalam jiwanya, membuat nasibnya tidak berjalan mulus pada masa itu. Tohari dianggap terlalu âkiriâ, dituduh anggota PKI. Presumsi yang membuatnya sempat diinterogasi selama berminggu-minggu di Kodim Banyumas atas novelnya Orang-orang Proyek, hingga kemudian dikenakan wajib lapor. Celakanya, interogator bahkan tidak mengerti seperti apa dunia sastra. Ia yang seorang nahdliyin orang-orang Nahdlatul Ulama juga sempat dipaksa mengaku sebagai anggota PKI dan berhaluan komunis. Pemaksaan itu terus ditampiknya, hingga ia harus meminta bantuan Gus Dur. Ia terbebas, sambil terus memelihara pertanyaan dalam kepalanya mengapa ia dituduh dan dihubung-hubungkan dengan pergolakan PKI. Pertanyaan yang cukup naif, sebab ia menulis semua hal yang merupakan wujud realitas selama kuku Orde Baru mencabik-cabik kehidupan di sudut Banyumas. Pengalaman pahit itu terus membekas dan menjadi hantu dalam dirinya. Ia trauma bertemu aparat militer dan kepolisian. Ide dan gagasannya menulis cerita mengalami kemandegan. Ia menjadi tidak produktif. Lima tahun kemudian, setelah tidak melahirkan satu karyapun, Tohari bangkit dari keterpurukan dan melepaskan diri dari hantu masa lalunya. Orde Baru bisa dikatakan sebagai tonggak perkembangan ekonomi Indonesia. Pada masa ini, roda pertumbuhan ekonomi melaju dengan kecepatan yang cukup signifikan. Imbasnya, pendapatan perkapita, perluasan lahan pertanian, pembangunan Ramis Raufa, Risma Santi Raufb, Eko Hariantoc âNovel Orang-Orang Proyek Sejarah Orde Baruâ 109 infrastruktur, mengalami akselerasi demikian pesat. Hal tersebut tidak terlalu mengherankan sebab program pemerintah berorientasi pada usaha penyelamatan ekonomi nasional yang sempat terpuruk mengendalikan tingkat inflasi, penyelamatan keuangan negara, dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Ketetapan MPRS 1996 tentang Pembaruan Kebijakan Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, yang kemudian diteruskan oleh Kabinet AMPERA, makin menguatkan upaya pengerahan segala sumber daya demi mewujudkan ketercapaian program-program pembangunan. Program-program yang dimaksudkan untuk mendobrak kemacetan ekonomi dan memperbaiki sektor-sektor yang menyebabkan kemacetan; debirokratisasi untuk memperlancar kegiatan perekonomian; dan orientasi pada kepentingan produsen kecil. Kita tidak akan membahas semua rencana dan bukti-bukti pencapaian Orde Baru, terlepas dari segala dinamika di dalamnya, tetapi berfokus pada sisi pembangunan infrastruktur, yang selanjutnya terimplementasi dalam pola umum Pembangunan Jangka Panjangâdengan rentang waktu 25 hingga 30 tahun, dan dilakukan secara periodik lima tahunan, atau yang selama ini kita kenal sebagai Pelita. Pola pembangunan inilah yang selanjutnya dapat dikatakan sebagai titik tumpu yang melatarbelakangi rangkaian peristiwa dalam Orang-Orang Proyek. Kemunculan realitas-realitas yang terjadi di masyarakat dalam novel ini bisa diasumsikan sebagai multiple atau multiplicity yang memengaruhi terjadinya pembentukan subjek pengarang sebagai subjek baru. Pembentukan subjek ini, oleh Badiou, disebut sebagai proses subjektifasi yang melibatkan presentasiââyang adaâ being dan peristiwa event atauââyang jamakâ sebagai anggota di dalam suatu himpunanAlain Badiou, 2005. Event atau peristiwa dalam pemikiran Badiou harus dipahami dan dibedah dari kacamata teori himpunan set theory matematik karena terdapat perhitungan angka di dalamnya. Maksudnya adalah teori himpunan, sebagai sebuah prosedur, menjelaskan kumpulan dari kumpulan atau bagian dari bagian. Bagian-bagian yang dimunculkan dalam teori himpunanâyang dapat diambil secara acak lewat pemilihan angka-angkaâdisebut Badiou sebagaiââstate of situationâ atau sering juga dinamai ârepresented multiplicitiesâ, yang merujuk pada situasi event, atau keadaan, being ada, yang representasi dan presentasinya berupa subjek kekosongan. Teori himpunan juga memungkinkan untuk memikirkan sebuah posisi transfinite dari tiap bagian himpunan yang bersifat tak terhingga ke dalam dimensi-dimensi yang tak terbayangkan banyaknya Alain Badiou, 2004. Menurut Badiou dalam Rauf, 2018, kita hidup dalam himpunan yang di dalamnya terdapat situasi atau peristiwa event, dijumpa sesuatuââyang adaâ tetapi keberadaannya tidak diakui oleh anggota himpunan yang lain kekosongan. Kekosongan ini sebenarnya akan menuntun pada suatu kebenaran yang dihadirkan dalam bentuk kehadiran baru. Proses menuju suatu kebenaran itu adalah subjektifasi. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk melakukan pembahasan subjektifasi secara komprehensif. Berdasarkan penjelasan dalam latar belakang di atas, peneliti merumuskan masalah penelitian dalam bentuk pertanyaan bagaimana subjektifasi Ahmad Tohari melalui novel Orang-Orang Proyek sebagai sebuah prosedur kebenaran? Terdapat beberapa penelitian yang mengangkat novel Orang-Orang Proyek sebagai objek materialnya. Pada tahun 2014, Alfian Khoirul Sujatmiko 2015 melakukan penelitian terhadap Orang-Orang Proyek dengan judul âAspek Moral Dalam Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Tinjauan Sosiologi Sastra dan Implementasinya sebagai Bahan Ajar Telaga Bahasa April 2020 110 Sastra di SMAâ. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, ini menyimpulkan bahwa 1 latar sosio-historis Ahmad Tohari, seorang sastrawan yangsuka mengangkat tema tentang tokoh orang kecil dan orang tertindas, 2 secara strukturalalur dalam novel Orang-Orang Proyek yaitu alur maju Progresif. Tokoh dalamnovel terdiri dari tokoh utama yaitu Kabul dan tokoh tambahan Insiyur Dalkijo,Pak Basar, Pak Tarya, Mak Sumeh, dan Wati. Latar waktu terjadi pada tahun1991 sampai dengan tahun 1992. Latar sosial adalah kehidupan orang kecil yangmenjadi korban dari perbuatan dan kekuasaan orang yang berkuasa. Latar tempatterjadi di sebuah proyek pembangunan jembatan Sungai Cibawor terletak di DesaCibawor, 3 aspek moral dalam nove Orang-orang Proyek terdapat empat aspekmoral, a aspek moral kemanusiaan, b aspek moral pergaulan, c aspek moralkeadilan, d aspek moral keagamaan, 4 Hasil penelitian ini juga dapatdiimplementasikan ke dalam pembelajaran sastra di SMA khususnya kelas XI. Selanjutnya, Haryo Pangestu, Mahasiswa Unversitas Negeri Yogyakarta, meneliti wacana kekuasaanyang terdapat dalam novel Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari. Selain wacana kekuasaan, dalam penelitianini juga memaparkan strategi kekuasaan yang digunakan dan relasi kekuasaan yangterdapat di dalamnya. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1 wacana kekuasaan dalam novel Orang-Orang Proyek bersifat normalisasi menjaga dan regulasi melarang dan menghukum; 2strategi kekuasaan dalam novel Orang-Orang Proyek yang digunakan terepresentasi secarahubungan negatif pengabaian, penolakan dan penyamaran, siklus laranganancaman dantekanan, instansi aturan mengatur boleh tidaknya melakukan sesuatu, terepresentasi secaralogika sensor menegaskan sistem kekuasaan yang dimilikinya; 3 bentuk relasi kekuasaaandalam novel Orang-Orang Proyek terdapat dalam pemikiran, politik dan lembaga digunakansebagai alatnyaHaryo Pangestu, 2016. Ari Raharjo 2017 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris mengkaji Novel Divergent dengan dengan judulâRebellion in Divergent Novel By Veronica Roth 2011 A Psychoanalytic Approachâ. Ari mencoba menunjukkan pemberontakan Tokoh Tris, karakter utama dalam Novel Divergent oleh Veronica Roth yang didasarkan pada pendekatan psikoanalitik dalam kaitannya dengan id, ego dan superego studi menunjukkan simpulan-simpulan berikut. Pertama, didasarkan pada analisis struktural, itu menunjukkan bahwa karakter dan karakterisasi, pengaturan, plot, gaya dan tema novel terkait menjadi kesatuan yang padat. Kedua, berdasarkan analisis psikoanalitik novel memberitahu bahwa karakter utama, Tris memiliki masalah psikologis karakter utama pertemuan menyebabkan konflik kondisi mental. Kemudian, berkembang menjadi ambisi apakah ia pemberontakan tindakan terhadap golongan Erudite. Ambisi besarnya adalah melawan pendapat Erudite bahwa Divergent berbahaya. Dari ketiga penelitian tersebut, belum ada yang membahas mengenai subjektifasi pengarang terhadap novel dan hal yang melatarbelakanginya, terutama Ahmad Tohari terhadap karyanya Orang-Orang Proyek sebagai sebuah prosedur kebenaran. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengedukasi generasi penerus bangsa terkait dengan pemanfaatan bahasa dan sastra Indonesia sebagai perekat kebinekaaan untuk industri kreatif, pariwisata, dan kearifan lingkungan dalam upaya membangun budaya bangsa Indonesia. Dengan melalui novel Orang-Orang Proyek, diharapkan para pemuda dan pelajar mampu mempelajari rekam Ramis Raufa, Risma Santi Raufb, Eko Hariantoc âNovel Orang-Orang Proyek Sejarah Orde Baruâ 111 jejak sejarah masa lampau untuk mengetahui identitas dan jati diri bangsanya. TEORI Teori himpunan adalah teori yang mendeskripsikan suatu himpunan yang terbentuk atas elemen-elemen âyang Adaâ dan âyang jamakâ. Elemen âyang adaâ adalah elemen atau anggota himpunan yang presentasinya belum terhitung presentasi murni atau kekosongan dan yang terhitung berdasarkan itu, elemen âyang jamakâ adalah elemen atau anggota himpunan yang terdiri dari peristiwa dan situs peristiwannya. Kehadiran peristiwa secara aktual diputuskan secara aksiomatik oleh subjek. Aksiomatik adalah postulat atau sesuatu yang ditetapkan sebagai titik berangkat analisis. Berangkat dari penjelasan singkat tersebut, dapat diasumsikan seperti ini, anggaplah Indonesia di dalam novel Orang-orang Proyek adalah satu himpunan besar yang di dalamnya terdiri atas anggota-anggota pembentuk himpunan tersebut. Anggota-anggota tersebut seperti masyarakat dan peristiwa besar. Kemudian, masyarakat ini pun merupakan sebuah himpunan kecil yang terdiri dari individu dan kelompok sebagai komponen-komponen pembentuknya. Asumsi di atas disimpulkan dalam suatu istilah pertalian yang dikelompokkan ke dalam dua jenis presentasi, yakni being atau yang adaâ dan event atau yang jamakâ. Sesuatu âyang adaâ dan âyang jamakâ ini menuntun kita pada suatu proses panjang kehadiran subjek di dalam suatu himpunan besar. Ketika presentasi âyang adaâ dan âyang jamakâ terjadi hubungan yang positif, dengan meyakini bahwa setiap peristiwa selalu datang dengan situs kebenarannya, dapat dipastikan akan membentuk subjek baru. Konsekuensinya adalah subjek baru tersebut dapat menghasilkan suatu kebenaran utuh melalui sebuah kehadiran baru atau malah justru melenyapkan kebenaran. Badiou 2005 dalam Being and Events, menjabarkan tesisnya tentang peristiwa melalui teori himpunanâdengan penebalan untuk menandakan tema-tema kunci dari konsep selalu dimulai dari kejamakan inkonsisten hlm. 25. Namunâsetelah dioperasikanâkejamakan itu bersifat kejamakan konsisten inilah yang disebut situasi. Selanjutnya, situasi ini ditransformasi lagi menjadi representasi. Representasi merupakan status dari situasi hlm. 60-61. Status dari situasi selalu memiliki ekses atau kelebihan, yang luput dari representasi yakni kekosongan itu sendiri hlm. 64. Dari sini muncul peristiwa. Peristiwa atau event adalah situasi dalam himpunan, sekaligus retakan dari himpunan itu. Itulah mengapa kekosongan {ø} selalu bisa diisi oleh nominal berapapun 1, 2, 3, dan tak terbatas, tetapi pada saat yang sama ia selalu berada di luar setiap himpunan hlm. 35. Tepat pada titik inilah, karena berada di luar representasi, kekosongan itu terlibat dalam intervensi âpolitikâ; ia menggugat eksistensi representasi sekaligus menjaga jarak dengannya karena tidak memiliki presentasi. Ia adalah ultra-satu hlm. 182-183. Meski tidak memiliki presentasi, ia memiliki nama berupa nilai rujukan hlm. 203. Itulah mengapa kekosongan bukanlah fantasi, melainkan materiâ. Yang memberi nama pada kekosongan ini tak lain adalah subjek itu sendiri hlm. 225. Tahapan pertama adalah menentukan objek material penelitian. Objek material yang digunakan dalam penelitian ini adalah novel Orang-Orang Proyek yang ditulis oleh Ahmad Tohari. Tahapan kedua yang dilakukan setelah mendapatkan objek materialadalah melakukan pembacaan menyeluruh terhadap novel Orang-Orang Proyek untuk menemukan isu-isu dan permasalahan yang menarik untuk diteliti. Adapun Telaga Bahasa April 2020 112 isuatau permasalahan yang akan diangkat adalah prosedur kebenaran dalamkaitannya dengan pembentukan subjek baru subjektifasi pengarang sebagaiakibat dari inkorporasinya dengan lingkungan sosialnya. Isu ini kemudian ditentukansebagai objek ketiga adalah menentukan teori yang terkait dengan objekformal penelitian yang akan dijadikan sebagai landasan berpikir, pedoman atau tuntunan sekaligus cara kerja dalam upaya memecahkan permasalahan subjektifasi pengarang. Adapun teori yang digunakan adalah teori himpunanset theory yang digagas Alain Badiou. Analisis data dilakukan dengan menyandingkan data yang termasuk ke dalam kelompok being dan kelompok data event. Untuk mencari proses subjektifasi Ahmad Tohari sebagai being pengarang, terlebih dahulu diklasifikasikan bahwa Tohari merupakanââyang adaâ sebagai anggota di dalam himpunan kota Banyumas. Langkah selanjutnyaâmengklasifikasikan data yang termasuk peristiwa dan situs peristiwa, mendeskripsikan ketercantuman subjek dalam sebuah kejamakan, mencurigai setiap prosedur kebenaran yang ada di dalam himpunan untuk mengklasifikasikan data yang terkait dengan pemaksaan forcing, dan mendeskripsikan bentuk kesetiaan fidelity subjek terhadap prosedur kebenaran yang ada. Selanjutnya, digunakan metode deskriptif analitik untuk mendeskripsikan proses inkorporasi antara Ahmad Tohari sebagai being di dalam himpunan kota Banyumas dan event atau peristiwa. Kemudian, menghubungkannya dengan konsep teori himpunan Alain Badiou yang diperoleh melalui proses kajian pustaka tekstual. Sehingga dapat ditarik satuhipotesis awal bahwa novel Orang-Orang Proyek tersebut merupakan subjek baru dari hasil subjektifasi Ahmad Tohari sebagai pengarang. HASIL DAN PEMBAHASAN Ahmad Tohari dan Adonan Inkorporasi Novel Lingkar Tanah Air menandai awal kebangkitan Ahmad Tohari sebagai seorang penulis. Sejak saat itu, dia mengerti hal pokok yang dibutuhkan seorang penulis, bahwa seorang penulis harus memiliki sesuatu yang tak dapat diterima dalam diri penulis itu sendiri. Ketika konflik batin tidak hadir dalam diri penulis, tidak akan ada yang bisa dilahirkan dalam tulisan. Proses inkorporasi yang menempatkan Tohari sebagai being individu yang terbentuk dari multiple pemahamannya terhadap ide-ide kehidupan, latar belakang, serta persinggungannya dengan Orde Baru terimplementasi menjadi sebuah prinsip event/kejadian yang berlangsung terus-menerus. Kenyataannya, pembangunan di Indonesia diwarnai dengan ragam multiple yang berupa praktik-praktik feodalisme dan kepentingan golongan yang diletakkan jauh di atas kepentingan masyarakat. Proses inkorporasi di atas berlanjut dan menemukan bentuknya hingga ke tahap proses subjektifasi. Subjektifasi merupakan hasil atas pertarungan gagasan yang lahir dari rahim pemikiran seorang Tohariâsebagai seorang individu yang merdekaâdengan ideologi pemerintahan Orde Baru. Benturan-benturan yang berkenaan dengan multiplicities yang merupakan anak kandung dari letupan-letupan idenya sebagai individu dengan cita-cita pembangunan di rezim Soeharto inilah yang selanjutnya mewujud dalam bentuk karyaâselayaknya cerminan dirinya dan respon atas gejolak sosio-kulturalâdalam Novel Orang-Orang Proyek. Kita dapat membentangkan secara jernih kerangka pemikiran yang bersandar pada teori Alain Badiou dalam konsep yang lebih representatif pada bagian selanjutnya dalam tulisan ini. PengarangâTokoh dalam Simpul Subjektifasi Hasil analisis pada beberapa tokoh dalam novel tampakâmengejawantahkan tiga Ramis Raufa, Risma Santi Raufb, Eko Hariantoc âNovel Orang-Orang Proyek Sejarah Orde Baruâ 113 pola new subject sebagai hasil akhir dari proses subjektifasi. Ketiganya masing-masing merepresentasikan subjek reaktif, subjek kabur, dan subjek yakin. Kehadiran ketiga hasil subjektifasi ini dapat mengantarkan kita pada pemahaman betapa Tohari telah mengalami sebuah inkorporasi, berenang ke dalam lautan pengalamannya yang diramu dari ideologinya sebagai individu merdeka dan segala ekstrinsikalitas berupa kehidupan politik, budaya, dan sejarah, yang mengalir di luar dirinya. Letupan-letupan itu yang kemudian melahirkan serangkaian peristiwa dalam karyanya, yang darinya kita dapat bercermin tentang banyak hal, termasuk perihal bagaimana ia bersikap terhadap gejolak lingkungannya. Dalam novel Orang-orang Proyek, Kabul adalah being individuyang dicitrakan sebagai seorang insinyur sekaligus mantan aktivis di kampusnya. Profesinya sebagai insinyur proyek pembangunan jembatan mengantarkannya pada kecamuk pergolakan batin dalam dirinya. âPermainanâ yang terjadi dalam proyek menuntutnya mengambil sikap atas segala bentuk konsekuensi yang kelak bersentuhan dengan orang banyak. Nuraninya berteriak merespons sesuatu yang tidak pada tempatnya. Kepala dan dadanya berkecamuk, sesuatu yang tidak dapat diterima nalar dan akarnya terjadi demikian telanjang di depan matanya. âPada tingkat ini, permainan berarti memanipulasi kualitas dan kuantitas barang yang dibeli untuk keperluan Insinyur Kabul tahu betul dampak semua permainan ini. Mutu bangunan dipermainkan, masyarakatlah yang pasti akan menanggung akibat buruknya. Dan bagi Kabul hal ini adalah pengkhianatan terhadap derajat Kabul merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Karena permainan itu sudah menjadi kewajaran dan menggejala di mana-mana, sampai masyarakat sekitar proyek pun ikut melakukannyaâTohari, 2015 32. Kabul sebagai being, dengan ideologi-ideologinya sebagai mantan aktivis mahasiswaâmenentang rezim pemerintahan sebagai event yang penuh intrik politik dan korupsi. Pergesekan yang demikian besar terjadi antara diri Kabul dan rezim yang berlaku. Ideologi tokoh ini selanjutnya tidak sekadar bergesekan, tetapi juga berbenturan; sebuah kontestasi kompleks antara subjek dan semesta di luar dirinya. Inkorporasi lantas menemukan bentuknya yang nyata dalam tataran ini. Betapa tidak, Kabul dideskripsikan sebagai kepala insinyur yang memimpin proyek infrastruktur pemerintah. Orde Baru yang melahirkan gejala penyelewengan hingga kemudian hal-hal amoral tersebut dianggap sebagai sesuatu yang lumrahâdan lazim dalam dunia proyek dan pembangunan. âSeperti pernah sampeyan katakan, karena banyaknya penyimpangan dan penyelewengan?Hal ini agaknya sudah menjadi gejala umum dimana-mana. Sedihnya lagi, tak sedikit insinyur telah kehilangan komitmen profesi dan tanggung jawab moral keilmuan mereka[âŚ]âhalaman 78. Sebagai subjek protagonis yang memikul beban ideologi kepengarangan, kita dapat menyebut tokoh ini sebagai implementasi lahiriah tidak setuju dengan kenyataan yang sedang terjadi di sekitarnya. Ia menyesalkan kenyataan betapa sangat banyak insinyur yang kehilangan profesionalitasnya karena terjerumus ke dalam konspirasi politis yang tidak menghasilkan apa-apa, kecuali kerusakan. Sementara di pihak lain, para pemegang saham duduk manis menikmati Telaga Bahasa April 2020 114 hasil penipuan dan lobi-lobi politik. Para pejabat, pemegang tampuk kekuasaan, dan orang-orang dalam golongan mereka lantas menjadi lintah-lintah kelaparan yang meminta darah rakyat kecil sebagai tumbalnya. Kenyataan yang mengusik dan melukai tokoh Kabul, dalam kapasitasnya sebagai insinyur yang manusiawi. âMemang sih, Pak, sekarang ini di mana tidak ada orang edan?Jajaran Birokrasi pemerintah, gudangnya. Jajaran penegak hukum, tentara, Depdikbud, Depag, sama saja. Pengusaha kantor, bankir, tak ada bedaâ halaman 79. Kutipan di atas mendeskripsikan truth procedure pada masa yang dialami oleh procedure dalam novel ini adalah kehadiran jajaran birokrasi pemerintah yang bekerja tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh wakil rakyat. Para birokrat justru memanipulasi hukum dan kebijakan yang seharusnya. Dalam kasus proyek yang dijalani Kabul, praktik korupsi bukan hal baru bagi orang-orang di tak ketinggalan menyasar praktik feodalisme di zaman Orde Baru. Melalui tokoh Kabul, ia dengan lantang mengkritisi cara-cara implementasi feodalisme dalam konteks keterkinian. Nilai-nilai dan standar moral menjadi isapan jempol, selebihnya orang-orang akan suka melakukan apa pun yang ingin mereka lakukan, terlepas dari hal demikian sejalan dengan prinsip bernegara atau malah berseberangan. âApa yang kamu kira Negara kita yang konon ber-Pancasila ini, dan semua aparatusnya sudah ditatar P4, adalah Negara republik demokrasi? Bangun, bangun! Hentikan sadarlah kita hidup di bawah orde feodal baruâ halaman 127. Praktik feodal sebagai multiple memiliki pengaruh besar dalam kekuasaan pemerintah. Kutipan di atas menunjukkan adanya kebenaran politik truth procedure serta jejak histori a belonging to history pada masa kekuasaan pemerintah yang feodalisme. Kabulâsebagai subjekâterinkorporasi dengan kebenaran politik dan jejak sejarah feodal sebagai mengalami proses inkorporasi yang panjang, terjadilah proses subjektifasi terhadap tokoh Kabul. Hal tersebut dibuktikan melalui kutipan berikut. âDan Maaf, Pak, saya bukan dari kalangan seperti itu. Jadi saya memilih mengundurkan diri terhitung sejak hari iniâhalaman 230. Proses subjektifasi Kabul dalam praktiknya mampu mempertahankan nilai-nilai yang sejak awal eksis dalam dirinya; nilai-nilai idealisme. Toleransi yang ia berikan sudah sangat melampaui batas. Akhirnya,iaputuskan untuk tidak meneruskan proyek yang dikerjakan karena tidak sesuai dengan apa yang selama ini diyakininya. Proses subjektifasi ini menghasilkan Kabul sebagai subjek baru new subject yang faithful subjek yakin. Dikatakan demikian sebab Kabul dapat menerima jejak sejarah a belonging to history dan mereproduksinya kembali dalam sebuah yang menentang kebenaran politik truth procedure yang feodal dan birokrasi pemerintahan korup. Dengan demikian, dapat disimpulkanbahwa tokoh Kabul merupakan representasi dari salah satu karakter Ahmad Tohari sebagai pengarang yang menentang sistem pemerintahan Orde Baru, di bawah kungkungan atau belenggu nafsu Soeharto yang feodal. Berbeda halnya dengan Kabul, tokoh Dalkijo dinarasikan sebagai tokoh antagonis yang menentang idealisme yang dimiliki oleh Kabul. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan sebagai berikut Ramis Raufa, Risma Santi Raufb, Eko Hariantoc âNovel Orang-Orang Proyek Sejarah Orde Baruâ 115 âSaya tahu Dik Kabul mantan aktivis. Biasa kan, yang namanya aktivis punya idealism yang kolot. Tapi setelah bekerja seperti ini, Dik Kabul harus tunduk kepada kenyataanâ halaman 32. Kutipan di atas menjelaskan proses inkorporasi dari idealisme tokoh Dalkijo dan merupakan bagian dari kebenaran politik truth procedure yang mendeskripsikanpenerimaan Dalkijo terhadap kebobrokan pemerintahan. Penerimaan yang mengindikasikan sebuah pemakluman dan persetujuan terhadap kondisi yang korup. Sebagai tokoh yang berasal dari latar belakang keluarga kurang mampu, kita dapat menempatkan kenyataan cerita tersebut sebagai multiple/event, Dalkijo merasa harus mengentaskan kemiskinan dalam dirinya. Program pengentasan tidak akan berhenti sekalipun ia harus menutup mata atas kenyataan yang terjadi di sekitarnya. âIr. Dalkijo yang nyatanya adalah tokoh GLM akan memecat Kabul karena ternyata tidak loyal. Ya, Loyalitas yang buta adalah budaya yang sangat dipentingkan dalam kultur GLMâ halaman 168. Kutipan diatas menunjukkan kehadiran multiple, sebentuk loyalitas buta adalah proses pengaburan atau pengabsolutan obscure suatu nilai yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kondisi multiple kemudian terinkorporasi dengan Dalkijo yang juga didukung denganmultiple lain berupa pembalasan dendam terhadap kemiskinan yang mencengkeram diri serta keluarganya. âSaya kini punya kemampuan untuk membalas dendam terhadap kemiskinan yang begitu lama menyengsarakan kami. Saya sudah melakukan apa yang dibilang orang sebagai tobat melarat. Selamat tinggal nasi tiwul, tikar pandan, atau rumah berlantai tanah, beratap rendahâhalaman 33. Kita perlu memeriksa multiple lainyang terindikasi turut dengan idealisme tokoh Dalkijo sebagai golongan yang menuntut loyalitas buta. Inkorporasi termaksud mendorong terjadinya absolutisme atau pengaburan obscure terhadap kebenaran politik truth procedure yang menjelaskan bahwa kepentingan pribadi dan kelompoknya adalah hal yang utama diatas segalanya. Hasil inkorporasi tersebut membawa tokoh Dalkijo menuju proses subjektifasi yang menyihir Dalkijo menjadi subjek baruyang menyebabkan ia disebut sebagai subjek kabur. âDengar Dik. Untuk memeriksa atau bahkan menahan dik Kabul, mereka akan menemukan banyak alasan. Misalnya, menghambat pelaksanaan program pembangunan, tidak loyal kepada pemerintah, menentang Orde Baru, sampai kepada indikasi bahaya laten komunis. Dan sekali lagi Dik Kabul akan masuk daftar hitam; Dik Kabul akan tetap diawasi dan mungkin tidak akan bekerja dimanapunâhalaman 229. Kutipan di atas menunjukkan bahwa Dalkijo berusaha untuk mengancam Kabul apabila lelaki itu tetap teguh pada pendiriannya dengan menjunjung idealismenya. Dalkijo juga mengatakan segala kemungkinan yang akan terjadi jika Kabul tidak menuruti kemauannya. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Dalkijo merupakan subjek kabur sebagai hasil dari proses subjektifasi. Dikatakan sebagai objek Telaga Bahasa April 2020 116 kabur karena Dalkijo berusaha mengaburkan kebenaran politik mengenai praktik korupsi yang sudah sangat jelas menyimpang. Korupsi yang tentu saja hanya merugikan semua pihak, kecuali golongan GLM yang berusaha meraup keuntungan sebanyak mungkin demi kepuasan pribadi dan kelompoknya melalui berbagai cara. Sementara itu, Pak Tarya dihadirkan sebagai tokoh untuk menjelaskan jejak sejaraha belonging to history. Maksudnya, Pak Tarya ditempatkan sebagai subjek yang bertugas menjelaskan latar belakang sejarah sebagai multiple dari pembangunan ulang Jembatan Cibawor yang merupakan produk gagal dari proyek pemerintah. âAyah Pak Tarya ditembak mati oleh para pemuda yang dicintainya di tubir jembatan yang kemudian mereka ledakkan. Sampai kapanpun kebrutalan itu, meski mengatasnamakan semangat Revolusi 1945, tak terlupakan oleh Pak Taryaâhalaman 14. Kutipan di atasmendeskripsikan jejak sejarah a belonging to history dari masa revolusi yang terjadi pada tahun 1945. Ketika itu dijelaskan bahwa peledakan jembatan lebih memiliki dampak buruk dibanding dengan tidak diledakkan karena pada akhirnya Jembatan Cibawor utama penghubung desa terputus dari dunia empat puluh tahun desa yang terisolasi itu makin terseok dalam ketertinggalannya pada segala bidang. âYa memang harus dimaklumi, Masalahnya , disini Kang Martasatang memang hanya satu. Tapi martasatang-martasatang yang lain jumlahnya puluhan ribu, atau bahkan puluhan juta. Mereka ada jadi terkorbankan demi pembangunan ini-itu. Seperti Kang Marasatang saat ini , mereka kehilangan masa depan. Lalu apa yang akan terjadi bila mereka seperti Kang Martasatang; Habis kesabaran lalu mengamuk?âhalaman 153-153. Kutipan di atas memberikan gambaran apa yang dialami oleh orang-orang kecil dalam Orang-Orang Proyek. Subjek Pak Tarya adalah bentuk dari multiple yang ikut berinkorporasi dengan subjek Kabul. Pak Tarya kemudian bersubjektifasi menjadi subjek yakin pertama yang memproduksi jejak sejarah a belonging to history dan mempertahankan kebenaran tersebut dengan mempertahankan ideologi dan nilai-nilai yang diyakininya. Proses pemertahanan tersebut terus bertahan di tengah arus badai Orde Baru dengan segala bentuk korupsi dan intrik-intrik politik kotor lainnya. âMas Kabul, dulu Ki Hajar Dewantara bilang begini. Pilih mana dari dua kondisi ini Numpak montor sinambi sawan tangis atau Mikul dhawet sinambi rengeng-rengeng. Secara samar Ki Hajar menganjurkan orang memilih kondisi yang kedua. Yakni, hidup sederhana sambil mengembangkan rasa, dan dengan ini orang bisa yang pertama?Yakni, hidup banyak harta namun terus gelisah karena selalu diburu oleh keserakahan sendiriâhalaman 222. Kutipan tersebut menggambarkan ketenangan hidup yang ia dapatkan dari nilai-nilai kesederhanaan yang diyakininya. Ia percaya bahwa lebih baik hidup secukupnya tetapi aman dan damai Ramis Raufa, Risma Santi Raufb, Eko Hariantoc âNovel Orang-Orang Proyek Sejarah Orde Baruâ 117 dibanding bergelimang harta tetapi terjerumus dalam persekongkolan yang merugikan orang banyak. Berdasarkan hal tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa Pak Taryo lahir sebagai new subject, yakni subjek yakin pertama yang memproduksi jejak sejarah a belonging to history dan mempertahankan kebenaran politik truth procedure sehingga dapat memengaruhi subjek yakin kedua untuk tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Subjek Pak Tarya, lebih jauh, juga merepresentasikan nilai-nilai yang dianut oleh Tohari, berasaskan latar belakang pengarang sebagai seorang santri pesantren yang besar dalam pandangan dan cara hidup yang sederhana. PENUTUP Penjelasan panjang pada bagian terdahulu, mengantar kita pada kesimpulan yang jelas. Perlu dipahami, pengarang mengalami inkorporasi dengan potongan sejarah dalam rezim Orde Baru. Proses itu membawanya pada penghayatan mendalam dan menciptakan subjektifasi. Hasil dari proses subjektifasi kemudian lahir dalam bentuk baru, dalam kerangka new subject. Entitas dalam perbincangan ini tidak lain kecuali karya sastra itu sendiri Orang-Orang Proyek. Orang-Orang Proyek sebagai subjek baruâhasil inkorporasi atau peleburan mendalam pengarang dengan lingkungan historiâsosioâkuluturalâdalam konsep yang lebih jauh melahirkan dua pola lainnya, yakni subjek yakin dan subjek kabur. Kedua subjek yang terkunci dalam satu tangkup new pemaknaan penulis dalam konsep kerja interpretasi, tidak ditemukan tokoh dengan ciri reaktif. Beberapa tokoh berdiri sebagai delegasi polarisasi di atas Kabul diidentifikasi sebagai subjek yakin; Dalkijo dicirikan sebagai subjek kabur; Pak Tarya dinarasikan sebagai subjek yakin pertama. Ketiganya bekerja sebagai implementasi dari kenyataan konsep teori betapa pengarangâdalam proses pembuatan karya sastraâbenar-benar melalui jalan panjang inkorporasi dengan hal-hal di luar dirinya, untuk selanjutnya melahirkan subjek baru dan polarisasi subjektifasi di dalamnya. Sebagai sebuah karya, Orang-orang Proyek berhasil mengungkap sisi gelap dari imperium historis Indonesia yang bernama Orde Baru. Seperti yang dikatakan para ahli, sastra tidak lahir dari kekosongan sejarah. Kenyataan ini mendorong kita pada kesadaran untuk memahami sebuah problem dari perspektif sejarah dalam kerangka kesastraan. Artinya, legalitas referensial novel ini sebagai rujukan sejarah bangsa dapat dipertanggungjawabkan. DAFTAR PUSTAKA Alain Badiou. 2004. Infinite Thought; disusun oleh BookEns Ltd, Royston, Herts. New York Continuum International Publishing Group. Alain Badiou. 2005. Being and Event; terjemahan bahasa Inggris. New York Continuum International Publishing Group. Ari Raharjo. 2017. Rebellion in Divergent Novel By Veronica Roth 2011 A Psychoanalytic Approach. Muhammadiyah University of Surakarta. Badiou, A. 2009. Logics of Worlds; diterjemahkan oleh Alberto Toscano. New York Continuum International Publishing Group. Faruk. 2015. Pengantar Sosiologi Sastra, edisi revisi. Yogyakarta Pustaka Pelajar Offset. Goldmann, L. 1977. Towards A Sociology of the Novel. London Tavistock Publications Ltd. Haryo Pangestu. 2016. Wacana Kekuasaan dalam Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Analisis Kekuasaan Foucauldian. Journal of UNY Student, 15. Retrieved from MPRS. 1996. Ketetapan MPRS Tentang Pembaruan Kebijakan Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan. In Telaga Bahasa April 2020 118 Ketetapan MPRS. Jakarta Pemerintah Republik Indonesia. Rauf, R. 2018. Novel Divergent Sebagai Prosedur Kebenaran Subjektifasi Veronica Roth dalam Perspektif Alain Badiou. Universitas Gadjah Mada. Sujatmoko, A. K. 2015. Aspek Moral dalam Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Tinjauan Sosiologi Sastra dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Sastra di SMA Universitas Muhammadiyah Surakarta. Retrieved from Tohari, A. 2015. Orang-Orang Proyek 1st ed.. Yogyakarta Gramedia Pustaka Utama. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Divergent Sebagai Prosedur Kebenaran Subjektifasi Veronica Roth dalam Perspektif Alain BadiouR RaufRauf, R. 2018. Novel Divergent Sebagai Prosedur Kebenaran Subjektifasi Veronica Roth dalam Perspektif Alain Badiou. Universitas Gadjah Moral dalam Novel Orang-OrangA K SujatmokoSujatmoko, A. K. 2015. Aspek Moral dalam Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Tinjauan Sosiologi Sastra dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Sastra di SMA Universitas Pengenalan NovelNovel yang berjudul âOrang-Orang Proyekâ ini merupakan sebuah novel karya Tere Liye. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2004. Novel ini menceritakan kisah hidup 5 orang yang bernama Yani, Jody, Farel, Alfi, dan Ebi yang merupakan teman sekelompok yang berusaha menyelesaikan sebuah Proyek. Di dalam novel ini, para pembaca dapat menemukan banyak hal menarik yang dapat mengajarkan kita tentang arti persahabatan dan dalam NovelCerita dalam novel ini diawali dengan 5 orang yaitu Yani, Jody, Farel, Alfi, dan Ebi yang merupakan siswa SMA. 5 orang ini berteman baik dan saling bahu membahu dalam menyelesaikan sebuah proyek. Proyek ini diberikan oleh seorang guru di sekolah mereka. Proyek ini berupa sebuah penelitian tentang kehidupan mereka. Mereka harus mengumpulkan banyak data tentang kehidupan mereka dan menyusunnya menjadi sebuah mereka mulai menyelesaikan proyek, mereka menemukan banyak hal menarik tentang kehidupan mereka. Mereka menemukan bahwa mereka memiliki banyak persamaan dan keunikan yang saling melengkapi. Mereka semakin dekat satu sama lain dan saling membantu menyelesaikan proyek dengan cepat. Namun, mereka juga menemukan banyak rintangan yang harus mereka hadapi. Beberapa di antaranya merupakan hal-hal yang berasal dari keluarga, masyarakat, dan permasalahan dalam NovelKonflik dalam novel ini adalah bagaimana 5 orang ini dapat menyelesaikan proyek dengan baik. Mereka harus berjuang melawan segala rintangan yang ada, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga masalah lainnya. Selain itu, mereka juga harus bersatu dan saling membantu untuk menyelesaikan proyek dengan dalam NovelTema dalam novel ini adalah tentang pentingnya persahabatan dan kebersamaan. Di dalam novel ini, 5 orang tersebut bersatu dan saling membantu satu sama lain dalam menyelesaikan proyek. Mereka juga menemukan bahwa mereka memiliki banyak persamaan dan keunikan yang saling melengkapi. Hal ini menunjukkan bahwa jika kita bersatu dan saling membantu, kita akan dapat menyelesaikan segala masalah dengan Pribadi PengarangPendapat pribadi pengarang tentang novel ini adalah bahwa novel ini dapat mengajarkan banyak hal tentang persahabatan dan kebersamaan. Novel ini juga dapat menginspirasi para pembacanya untuk saling berbagi dan bersatu dalam menghadapi âOrang-Orang Proyekâ karya Tere Liye merupakan sebuah novel yang menceritakan tentang 5 orang yang saling membantu satu sama lain dalam menyelesaikan sebuah proyek. Novel ini juga mengajarkan banyak hal tentang arti persahabatan dan kebersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa jika kita bersatu dan saling membantu, kita akan dapat menyelesaikan segala masalah dengan mudah. Home Pendidikan Andrey Pranata Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Analisis Sosiologi Sastra, 2009. âAku yang sudah peyot buat apa berbohong? Dia itu ya sering ngrasani Pak Insinyur Hal. 46.â Alur Alur tidak dapat diarahkan dalam cerita rekaan fiksi. Dalam cerita yang sesungguhnya tidak mungkin tidak ada alur. Dalam cerita rekaan modern yang eksperimental sekalipun, masih ditemui alur. Jika dalam sebuah cerita tidak ditemui alur, orang tidak akan menyebutnya cerita apalagi cerita rekaan, melainkan hanya sebuah lukisan atau paparan belaka. Menurut Hamidy 1983 26 alur suatu cerita atau plot dapat dipandang sebagai pola atau kerangka cerita dari bagian-bagian lain cerita itu disangkutkan sehingga cerita itu kelihatan menjadi suatu bangunan yang utuh. Menurut Gorys Keraf 1980 148, Alur merupakan kerangka dasar yang sangat penting dalam kisah. Alur mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus bertalian satu sama lainnya, bagaimana suatu insiden lain, bagaimana tokoh-tokoh harus digambarkan dan berperan dalam tindakan-tindakan itu, bagaimana situasi dan perasaan karakter tokoh yang terlibat dalam tindakan-tindakan itu yang terikat dalam suatu kesatuan waktu. Perlu ditambahkan adalah tidak perlu dipersoalkan bahwa akhir cerita masih menimbulkan persoalan baru lagi karena akhir suatu kejadian atau peristiwa bisa menjadi awal dari kejadian lain atau awal dari tragedi itu merupakan sebuah diskusi yang pada gilirannya menjadi bagian pendahuluan dari kisah berikutnya. Andrey Pranata Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Analisis Sosiologi Sastra, 2009. Untuk membatasi titik tinjauan, maka perlu diberi batasan terhadap apa yang dimaksud cerita di dalam sebuah novel, yaitu rangkaian tindakan yang terdiri dari tahap-tahap yang penting dalam sebuah struktur yang terikat oleh waktu. Mochtar Lubis 1981 17 mengatakan bahwa suatu cerita terdiri dari lima bagian, yaitu a. Situation pengarang mulai melukiskan suatu keadaan, b. Generating Circumstance peristiwa yang bersangkut-paut dan mulai bergerak, c. Racing Action kedaan mulai memuncak, d. Climax peristiwa-peristiwa mencapai puncaknya, dan e. Denoument pengarang memberikan pemecahan soal dari semua peristiwa. Namun bukan berarti bahwa suatu cerita harus disusun menurut urutan peristiwa seperti di atas, karena ini hanya merupakan penjelasan terhadap unsur-unsur yang membangun alur tersebut. Bagian-bagian tersebut dapat saja berpindah ke bagian lain, denoument dapat saja berpindah ke bagian sitution, demikian pula bagian situation dapat berubah posisi ke tempat climax. Pertukaran atau perpindahan posisi tersebut berguna untuk bagian-bagian tertentu, seperti ketakterdugaan, keterkejutan, dan kelogisan cerita. Bagaimana cerita itu disusun tergantung kepada fantasi pengarangnya. Pada dasarnya alur dibagi atas dua bagian besar, yaitu alur maju dan alur mundur. Alur maju sering juga disebut alur biasa. Disebut alur maju apabila suatu cerita mengikuti urutan-urutan situation, generating circumstance, racing action, Andrey Pranata Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Analisis Sosiologi Sastra, 2009. climax, dan denoument. Sedangkan pengertian alur mundur ialah apabila cerita tidak mengikuti konsep di atas. Alur mundur dapat diketahui apabila pengarang memulai suatu cerita yang menegangkan atau klimaks, kemudian diceritakan penyebab konflik besar tersebut. Menurut fugsinya Boulton 1975 47-48 membagi alur cerita atas fungsi pengarang dan pembaca. Bagi pengarang, alur adalah arah supaya penulis tetap jelas. Sedangkan bagi pembaca, alur membawa pembaca bergerak maju meskipun tidak setiap hal kecil dapat ditangkapnya. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut di atas, penulis memberikan batasan alur sebagai berikut, alur ialah rangkaian peristiwa dalam cerita berdasarkan sebab akibat yang logis. Batasan ini selanjutnya penulis jadikan dasar kajian dalam penelitian yang penulis lakukan ini. Sebagai pegangan tentang kriteria pembangunan alur, penulis mengambil pembagian dari Muchtar Lubis. Alur yang terdapat dalam novel Orang-Orang Proyek masih mengikuti pola alur biasa atau alur maju. Bagian-bagian alur cerita ini dapat digambarkan dan dimulai dari pemaparan situation. a. Situation Pemaparan situation merupakan suatu kondisi permulaan yang menyampaikan informasi permulaan kepada pembaca. Kondisi ini mendorong keingintahuan pembaca selanjutnya. âitulah yang membuat saya tertekan, pusing. Karena beton pancang sudah miring, pekerjaan harus diulang dari awal lagi. Nah, bila pusing Pak Tarya bisa menghibur diri dengan main seruling. Tapi saya?â âO, begitu? Rupanya sampeyan pusing karena banjir telah merusak pekerjaan sampeyan?â Andrey Pranata Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Analisis Sosiologi Sastra, 2009. âDan kerusakan itu membuat kerugian yang cukup besar. Serta memberi beban batin karena hasil kerja beberapa hari dengan biaya jutaan lenyap seketika.â âTapi, Mas Kabul, banjir adalah urusan alam. Jadi, buat apa disesali dan dibuat sedih?â âKarena kerugian itu sesungguhnya bisa dihindarkan bila awal pelaksanaan pembangunan jembatan itu ditunda sampai musim kemarau tiba beberapa bulan lagi. Itulah rekomendasi dari para perancang. Namun rekomendasi itu diabaikan, konon demi mengejar waktu.â âMaksudnya?â âPenguasa yang punya proyek dan para pemimpin politik lokal menghendaki jembatan itu selesai seblum Pemilu 1992. karen, saya kira, peresmiannya akan dimanfaatkan sebagai ajang kampanye partai golongan penguasa. Menyebalkan. Dan inilah akibatnya bila perhitungan teknis-ilmiah dikalahkan oleh perhitungan politik Hal. 10.â Awal cerita novel Orang-Orang Proyek memberikan gambaran tentang kondisi proyek pembangunan jembatan di Sungai Cibawor yang mengalami kendala yaitu banyak tindakan korupsi terjadi di dalamnya. Selanjutnya pada paragraf berikutnya menerangkan tentang kegiatan yang dilakukan oleh tokoh utama. Sebagai insinyur, Kabul tahu betul dampak semua permainan ini. Mutu bangunan menjadi taruhan. Padahal bila mutu bangunan dipermainkan, masyarakatlah yang pasti akan menanggung akibat buruknya. Dan bagi Kabul hal ini adalah pengkhianatan terhadap derajat keinsinyurannya. Namun Kabul merasa tak bisa berbuat apa-apa. Karena permainan itu terasa sudah menjadi kewajaran dan menggejala di mana-mana, sampai masyarakat sekitar proyek pun ikut melakukannya. Bahkan pelaksana seperti Dalkijo sudah terbiasa menerima semua bentuk permainan itu tanpa keluhan apa-apa, atau malah memanfaatkannya? Hal. 28 .... Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Apakah yang pertama merupakan manifestasi yang kedua?Apakah kejujuran dan kesungguhan sejatinya adalah perkara biasa bagi masyarakat berbudaya, dan harus dipilih karena keduanya hal yang niscaya untuk menghasilkan kemaslahatan bersama? Mungkin Hal. 34. Andrey Pranata Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Analisis Sosiologi Sastra, 2009. b. Generating Circumstances Peristiwa yang tersangkut paut mulai bergerak. Pada tahap ini, pembaca mulai memahami bahwa cerita akan diceritakan sedikit demi sedikit oleh pengarang, tetapi cerita belum jelas, masih samar-samar. Tahap ini dapat dilihat ketika Kabul pusing melihat tiang jembatan yang hancur di landa banjir. Tanpa terasa proyek sudah berjalan tiga bulan. Namun karena dimulai ketika hujan masih sering turun, volume pekerjaan yang dicapai berada di bawah target. Menghadapi kenyataan ini, Kabul sering uring- uringan. Jengkel karena hambatan ini sesungguhnya bisa dihindari bila pemerintah sebagai pemilik proyek dan para politikus tidak terlalu banyak campur tangan dalam tingkat pelaksanaan. Dan campur tangan itu ternyata tidak terbatas pada penentuan awal pekerjaan yang menyalahi rekomendasi para perancang, tapi masuk juga ke hal-hal lain. Proyek ini, yang dibiayai dengan dana pinjaman luar negeri dan akan menjadi beban masyarakat, mereka anggap sebagai milik pribadi Hal. 25. Selain itu, pada tahap ini juga diceritakan tentang pertemuan antara Kabul dan Wati. Pertemuan itu berlangsung di ruang kerja proyek pembangunan jembatan di Sungai Cibawor. Mereka berdua berada dalam satu ruang kerja, Kabul sebagai pelaksana proyek dan Wati bekerja sebagai administrasi proyek. Ya, mau apa? Pertanyaan itu menggantung. Pak Tarya hanya menanggapinya dengan tawa ringan. Kemudian, sambil melambaikan tangan, pemancing tua itu meneruskan perjalanan. Pulang. Kabul pun berjalan menuju bangunan bedeng tak jauh dari proyek itu. Di sana ada kamr berdinding tripleks dengan kelengkapan yang lumayan memadai; tempat tidur, lemari, televisi, kamar mandi. Kamar sebelahnya adalah ruang kerja sederhana, namun cukup luas karena di ditulah administrasi proyek diselenggarakan. Wati, yang disodorkan tokoh setempat, bekerja sebagai penulis kantor proyek itu Hal. 23. Andrey Pranata Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Analisis Sosiologi Sastra, 2009. c. Ricing Action Tahap ini berisi peristiwa-peristiwa yang mulai mengarah ke puncak cerita, namun belum sampai menimbulkan klimaks puncak cerita. Dalam cerita ini dapat dilihat tahap ricing action yaitu terjadinya insiden atau konflik. Walaupun konflik telah terjadi, namun belum menimbulkan suatu perubahan yang mendasar terhadap tokoh utama. Hal ini disebabkan konflik atau insiden yang terjadi sifatnya tidak terlalu fatal, dengan perkataan lain konflik yang terjadi adalah konflik-konflik kecil. Konflik dalam cerita ini dimulai dengan konflik batin di dalam diri Kabul yaitu keidealismeannya ditentang oleh Dalkijo selaku pimpinan proyek. Dalkijo memperkaya diri sendiri dengan melakukan tindak korupsi di proyek pembangunan jembatan. Namun tidak seperti Dalkijo yang mendendam kemelaratan masa muda dengan membalasnya melalui hidup sangat pragmatis dan kemaruk, Kabul tetap punya idealisme dan sangat hemat. Proyek itu pun bagi Kabul harus dilihat dalam perspektif idealismenya, maka harus dibangun demi sebesar-besarnya kemaslahatan umum. Artinya, kualitas harus sempurna dengan memanfaatkan setiap sen anggaran sesuai dengan ketentuan yang semestinya. Memang, Kabul sering ditertawakan Dalkijo. âApa dengan mempertahankan idealismemu, orang-orang miskin di sekeliling kita menjadi baik?â seloroh Dalkijo suatu saat. âApa kejujuranmu cukup berarti untuk mengurangi korupsi di negeri ini?â Kabul seiring merenungkan seloroh Dalkijo ini. Ya, dengan pandangan dekat, seloroh itu ada benarnya juga. Negeri ini dihuni oleh masyarakat korup, terutama di kalangan birokrat sipil maupun militer, juga orang awamnya. Malah Kabul melihat jenis korupsi baru yang tersamar namun bisa sangat parah akibat yang ditimbulkannya, Yakni korupsi melalui manipulasi gelar kesarjanaan. Seseorang yang tidak mencapai standar kecerdasan intelektual, apalagi kecerdasan emosional tingkat sarjana, bisa resmi mendapat gelar kesarjanaan atau pascasarjana. Gelar itu bisa didapat dengan membeli, ikut kelas jauh, atau kuliah- kuliahan di kota kecil yang diselenggarakan oleh universitas gurem penjual ijazah. Dengan gelar yang semestinya bukan hak itu dia memperoleh kenaikan tingkat kepegawaian, kenaikan gaji, dan fasilitas lain, bahkan pensiun kelak akan lebih besar. Bila ribuan pegawai dari tingkat pusat sampai guru SD melakukan manipulasi ijazah Andrey Pranata Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Analisis Sosiologi Sastra, 2009. seperti itu, Kabul bisa membayangkan berapa kerugian rakyat akibat korupsi terselubung ini. Apalagi bila dihitung untuk jangka panjang. Ya, kecurangan memang sudah menjadi barang biasa. Maka Dalkijo juga pernah bilang kepada Kabul, si jujur adalah orang yang menentang arus dan konyol. Bloon. Mungkin. Namun bagi Kabul, kejujuran sebenarnya bukan suatu hal yang istimewa. Dialah yang seharusnya dianggap biasa Hal. 52-54. Sebelumnya Kabul seorang anak kuliahan serta dia juga aktivis kampus. Dalam hal menghadapi ini, Kabul tidak sedikit pun tergoda oleh apa yang telah ditawarkan pimpinan proyek kepada Kabul untuk berbuat curang dalam bekerja. Kabul yang memiliki keidealismean yang tinggi tidak terpengaruh dengan situasi di dalam proyek yang banyak perangkat di dalamnya melakukan tindakan korupsi. Konflik berikutnya dalam novel Orang-Orang Proyek adalah ketika Kabul hendak shalat Jumat. Ketika Kabul hendak shalat Jumat itulah, Wati menyediakan perangkat untuk shalat berupa kopiah, baju shalat, dan sarung. Pertanyaan ini dibawa masuk ke ruang kantor. Dan di sana Kabul menemukan jawaban yang sangat maknawi. Ada kopiah, baju koko, dan kain sarung tertata rapi di atas mejanya. Wangi sekali. Secarik kertas di dekatnya bertuliskan âsilakan pakaiâ. Kabul cepat tersadar ini hari jumat, maka pekerjaan diistirahatkan sejak jam sebelas. Dan ia pun langsung ke kamar mandi. Selama membersihkan diri Kabul teringat perangkat salat yang wangi itu; siapa yang menaruh di sana? Kabul tahu jawabannya yang pasti benar. Wati. Tulisan di sana cukup menjelaskan semua. Dan agaknya Wati sudah pulang. Tapi kok nganyar-anyari? Jumat-jumat sebelumnya Wati tak pernah peduli apakah Kabul pergi salat atau tidak. Keluar dari kamar mandi Kabul kembali memandang perangkat yang belum disentuh di atas meja itu. Mau pakai atai tidak? Kabul ragu. Karena memakai atau tidak sama-sama ada bayaran moralnya. Kalau memakai berarti Kabul menerima sikap nganyar-anyari yang ditunjukkan Wati. Ah, Kabul menduga ada sesuatu di balik sikap gadis itu. Padahal Kabul tidak atau belum siap berubah pandangan terhadap dia. Kalau tidak memakai, rasanya tak enak. Pantaskah uluran tangan teman yang sudah sekian lama bekerja sama disepelekan? Kabul tersenyum dan wajahnya cerah karena menemukan jalan tengah. Diambilnya kopiah dan baju koko, tapi kain sarungnya tidak. Jalan tengah ini mungkin mewakili sikap ambigu atau keraguan Hal. 35-36. Andrey Pranata Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Analisis Sosiologi Sastra, 2009. d. Climax Apabila tahap ketiga tadi menceritakan tentang berbagai macam konflik kecil dan sifatnya menjurus ke konflik besar, maka pada tahap keempat atau puncak, konflik pecah. Biasanya, konflik-konflik yang menuju konflik besar atau puncak akan berakibat pada perubahan nasib para tokoh, terutama tokoh utama. Pada tahap ini dapat dilihat dengan jelas bahwa ada beberapa konflik besar yang terjadi dalam novel Orang-Orang Proyek. Konflik besar pertama dimulai dengan manajer proyek, Dalkijo, memerintahkan Kabul untuk menggunakan pasir Sungai Cibawor sebagai bahan untuk pengecoran jembatan tersebut digunakan besi bekas. Hal di atas dapat kita lihat pada kutipan di bawah ini. Proyek jadi lebih ramai. Ir. Dalkijo, manajer proyek, menyuruh Kabul menambah jumlah tukang dan kuli. âjembatan harus selesai dan diresmikan tepat HUT GLM,â itu kata-kata Dalkijo yang telah diulang-ulang belasan kali. Dan HUT golongan penguasa itu makin dekat. Dalam hitungan Kabul, HUT GLM tinggal 52 hari lagi. Bila tak ada hambatan, waktu sepanjang itu cukup untuk menyelesaikan proyek jembatan dengan tuntas. Tapi Kabul merasa tak punya jaminan dalam waktu 52 hari semuanya akan berjalan lancar. Musim hujan sudah nyata datang. Hujan sering memaksa tukang batu berhenti bekerja karena tak mungkin memasang adukan dalam guyuran air. Tenda- tanda harus dipasang untuk memayungi tukang-tukang las yang sedang menggarap rancangan lantai jembatan. Dalam musim hujan, mutu pasir sungai juga turun karena kandungan tanahnya bertambah. Kabul akan mengalami kesulitan mencari pasir sungai yang memenuhi baku mutu untuk pengecoran. Repotnya, katanya karena keterbatasan dana, Manajer Proyek sudah memutuskan menggunakan pasir sungai untuk bahan pembuatan lantai jembatan. Memang, bila dibilas lebih dulu, pasir sungai pun bisa menjadi komponen beton yang memenuhi syarat. Namun pembilasan akan memakan waktu dan juga biaya. Lagi pula harus dipersiapkan peralatan khas untuk mencuci ratusan kubik pasir. Dan peralatan itu tidak ada. Masih pusing dengan masalah pasir, kemarin kepala Kabul dibuat puyeng lagi. Permintaan atas kekurangan besi rancang yang diajukan kepada Dalkijo dijawab dengan kedatangan truk tronton; isinya besi rancang bekas bongkaran jembatan di pantura Hal. 179-180. Andrey Pranata Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Analisis Sosiologi Sastra, 2009. Bagi Kabul, ini sudah keterlaluan. Akhirnya Kabul protes akan perintah manajer proyek yaitu Pak Dalkijo. Dalkijo memerintahkan kepada Kabul untuk memakai pasir Sungai Cibawor yang kurang mencapai mutu pasir yang baik dan besi rancang yang bekas. Pernyataan di atas dapat kita lihat pada kutipan di bawah ini. Bagi Kabul, ini sudah keterlaluan. Kabul protes. Maka meskipun sudah diturunkan dari kendaraan pengangkutnya, besi-besi bekas itu dibiarkan menumpuk di halaman kantor proyek. Melalui radio komunikasi Kabul menyatakan tidak akan mau menggunakan besi bekas itu. Tapi Dalkijo bersikeras. âAduh, Dik Kabul ini bagaimana? Sudahlah, ikuti perintahku. Gunakan besi itu. Toh itu hanya untuk menutup kekurangan. Aku tahu penggunaan besi bekas memang tidak baik. Tapi bagaimana lagi, dana sudah habis. Makanya, kita pun tak mampu membeli pasir giling. Dana benar-benar sudah habis.â âPak, kali ini saya tidak bisa berkompromi,â jawab Kabul penuh percaya diri. âTak bisa kompromi bagaimana? Dengar, Dik Kabul. Kita sudah selesai membangun bagian terpenting, yakni struktur jembatan. Bukankah Dik Kabul yakin sejauh ini pekerjaan kita bisa dipertanggungjawabkan?â âSaya bertanggung jawab atas kualitas struktur jembatan.â âNah. Dengan demikian kita tinggal menyelesaikan bagian-bagian luar struktur. Bila kita sedikit menurunkan kualitas di bagian ini, mestinya tidak mengapa. Taruhlah, karena kita menggunakan pasir sungai dan besi bekas, lalu lantai jembatan hanya kuat bertahan satu atau dua tahun, Dik Kabul tak usah risau. Karena struktur jembatan tidak ada masalah. Lagi pula kita dikejar waktu. Dan aku bendahara GLM. Bupati, Dandim, Kapolres, Kepala Kejaksaan, Ketua Pengadilan, semua kader dan pendukung GLM. Di DPRD, golongan kita dominan. Bahkan wakil dua parpol itu juga orang-orang yang berjiwa GLM tapi diberi baju hijau dan merah. Semuamya pendukung setia Bapak Pembangunan. Jadi siapa yang berani mengusili kita? Paling- paling LSM Dan untuk meladeni anak-anak LSM kita punya aparat keamanan. Jadi, Dik Kabul tenang sajalah. Semua bisa kita reka-reka. Semua bisa kita atur.â âSebentar, Pak,â sela Kabul. âBapak bilang saya tak perlu risau meskipun lantai jembatan mungkin hanya bisa bertahan satu-dua tahun?â âYa. Bila nanti jembatan rusak, ya kita perbaiki lagi, tentu saja bila disediakan dananya. Kita ini pemborong Hal. 180-181. Ketika Wiyoso, pacar Wati, semakin gelisah menentukan tindakan. Nalar sendiri mengatakan wajar bila Wati sudah ingin menikah. Wiyoso ingat sudah beberapa kali menghadiri pesta perkawinan teman-teman perempuan seangkatan. Malahan sepanjang yang diketahui Wiyoso sudah ada dua teman seangkatan yang Andrey Pranata Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Analisis Sosiologi Sastra, 2009. bersuami. Itu belum terhitung mereka yang hanya tamat SMA lalu kawin atau harus kawin karena pacaran kebablasan. Wiyoso bingung menentukan sikap, menerima Wati sebagai istri hampir tidak mungkin, nalar Wiyoso mengatakan demikian. Wiyoso belum siap untuk menikahi Wati. Wiyoso masih mengikuti perkulihan di Fakultas Mipa. Setelah dihitung Yos, dalam semester lima usia Yos adalah 24. dan Wati teman seangkatan di SMA, hanya berbeda jurusan. Hal di atas dapat kita lihat pada kutipan di bawah ini. Kebaikan masing-masing. Ah, betapa pahit dan menusuk perasaan ungkapan ini. Sialnya, akal Yos sendiri bilang dalam kepahitannya ungkapan tadi mengandung kebenaran juga. Bila dia melepas Wati untuk berjalan sendiri, Yos bisa lebih berkonsentrasi pada studi. Lebih punya ruang dan waktu luas untuk menyiapkan hari depan. Dan lebih menghargai hak Wati untuk memperhitungkan sendiri masa depannya berdasar pada kondisi-kondisi objektif yang melekat pada dirinya. Tapi ini terlalu rasional. Pacaran adalah tindakan untuk dan atas nama rasa. Jadi, bila dilakukan mengikuti jalur rasional tak akan ada asyiknya Hal. 168-169. Akhirnya Wiyoso menemui Wati untuk membicarakan langsung hal ini. Setelah semalaman Wiyoso bingung menentukan sikap. Hal ini dapat kita lihat melalui penggalan kutipan di bawah ini. âWat, aku datang untuk bertanya.....â Yos mematikan rokok yang baru sekali diisap. Wati menatap Yos, namun dengan posisi wajah menunduk. Menunggu. Wati memijit-mijit kuku jari telunjuk. âYa, aku mau tanya, kamu benar-benar minta kawin segera?â âYa,â jawab Wati lirih. Yos gelisah sekali. Diambilnya rokok baru, dipasang di mulut,tapi korek api di mana? âTapi kamu tahu hal itu tak mungkin bagi aku, kan?â Wati diam dan terus memijit-mijit kukunya. Wajah Yos memerah. Matanya menyala. Jemarinya mengepal-ngepal. Kemudian suaranya keluar dengan getar amarah. âApa sebenarnya kamu ingin hubungan kita berakhir? Tolong jawabâ Wati menelan ludah. Tangannya gemetar. âYa, Yos. Dan maafkan aku.â Hal. 176-177 Andrey Pranata Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Analisis Sosiologi Sastra, 2009. Wiyoso terus-menerus bertanya kepada Wati tentang hubungan mereka. Wati tetap pada prinsipnya yaitu ingin segera menikah. Yos tidak mungkin melakukan hal itu. Wiyoso pun menanyakan alasan Wati mengakhiri hubungan ini. Peristiwa di atas dapat kita lihat pada penggalan kutipan di bawah ini. âAku boleh tahu sebabnya?â Wati merasa tenggorokannya gatal. Terbatuk. âTadi kamu sudah mengatakannya. Kamu bilang tak mungkin menikah dengan aku dalam waktu dekat. Yos, setelah aku pikir, aku tak bisa menunggu terlalu lama. Umurku....â âTapi dulu kamu mau. Iya, kan? Mengapa sekarang tidak? Jadi kamu penipu. Kamu pengkhianat.â Yos benar-benar marah. Kedua matanya berkobar dan tangannya mengepal. Wati pasi. Wajahnya ciut. Matanya mewakili kecemasan yang sangat. Kedua bibirnya rapat. Ketika merasa harus berbicara, bibir Wati bergetar Hal. 177. Akhirnya Wiyoso tahu sebab Wati memutuskan hubungan ini. Wiyoso pun beraksi atas keputusan yang dibuat Wati. Wiyoso bergegas pergi dari kantor tempat Wati bekerja. Yos bangkit, melangkah cepat ke meja kerja Wati. Gelas minum Wati disambar, sedetik kemudian pecah berhamburan di lantai. Wati menjerit sambil menutup wajah dengan tangannya. Dan Yos berdiri dengan kaki menggigil. Tunai? Yos masih berdiri dan wajahnya membara Hal. 177. .... Kabul dan Aminah terhenti di luar pintu. Mereka menyaksikan Yos menyalami Wati yang masih duduk dan terisak-isak. Janggal dan hambar. Yos, keluar, mengangguk kepada Kabul dan Aminah, kemudian bergegas menuju motornya. Semenit kemudian motor itu sudah menderu ke arah jalan. Tapi Yos tidak memacunya seperti ketika dia datang. Barangkali karena sebutan pengkhianat yang dia berikan kepada Wati adalah imbalan tunai atas harga yang sudah dia bayar lunas Hal. 178. Andrey Pranata Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Analisis Sosiologi Sastra, 2009. e. Denoument Tahap denoument adalah suatu tahap yang bersifat final. Pada tahap ini cerita berakhir yang biasanya mempunyai dua pilihan, pertama berakhir dengan kegembiraan. Kedua akan berakhir dengan tragis ataupun berakhir dengan kesedihan. Dalam novel Orang-Orang Proyek ini cerita diakhiri oleh pengarang dengan rasa kebahagian bercampur dengan rasa duka. Rasa duka itu muncul ketika Kabul melihat hasil proyek pembangunan jembatan di Sungai Cibawor yang mengecewakan. Standar mutu suatu jemabatan tidak terdapat pada jembatan Sungai Cibawor. Kabul akhirnya mengundurkan diri dari proyek pembangunan jembatan di Sungai Cibawor yang dipimpin oleh Pak Dalkijo. Kabul mengundurkan diri karena sudah tidak tahan lagi melihat keadaan proyek yang di dalamnya terjadi penyelewengan dana yang mengakibatkan mutu jembatan yang diharapkan Kabul tidak terlaksana. Dengan terjadinya tindakan korupsi di dalam pengerjaan proyek, mutu jembatan tidak baik yang nantinya berdampak pada masyarakat setempat sebagai pengguna fasilitas umum. Hal ini dapat kita lihat pada kutipan di bawah ini. Akhirnya Desember 1992, hanya satu tahun setelah Kabul meninggalkan proyek pembangunan jembatan Sungai Cibawor. Keinginan Kabul bekerja di proyek milik swasta terlaksana ketika dia mendapat kepercayaan menjadi site manager pembangunan hotel di Cirebon. Liburan akhir tahun ingin dinikmatinya di rumah Biyung bersama Wati yang sudah menjadi nyonya Kabul. Mereka baru sebulan menikah. Akhirnya Desember 1992, hanya satu tahun setelah Kabul meninggalkan proyek pembangunan jembatan Sungai Cibawor. Keiinginan Kabul bekerja di proyek milik swasta terlaksana ketika dia mendapat kepercayaan menjadi site manager pembangunan hotel di Cirebon. Libur akhir tahun ingin dinikmatinya di rumah Biyung bersama Wati yang sudah menjadi nyonya Kabul, mereka baru sebulan Menikah Hal. 216-217 Andrey Pranata Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Analisis Sosiologi Sastra, 2009. Ketika menuju rumah Biyung, mobil Kabul melewati jembatan Sungai Cibawor yang dulunya ia sebagai pimpinan pelaksana proyek pembangunan jembatan Sungai Cibawor melihat keadaan jembatan yang sudah rusak. Hati Kabul sedih melihat keadaan jembatan. Inilah hasil dari pekerjaan yang tidak sesuai mutu standar pembangunan jembatan. Hal di atas dapat kita lihat pada penggalan kutipan di bawah ini. Untuk mencapai rumah Biyung dari arah Cirebon, Kabul akan melewati jembatan Sungai Cibawor yang dulu digarapnya meskipun tidak sampai selesai. Hampir jam empat sore mobil Kabul mencapai Desa Cibawor. Ah, Kades Basar dan Pak Tarya sedang apa? Dan pertanyaan yang muncul itu segera diterlupakan karena tiba-tiba Kabul terpana. Di mulut jalan simpang tiga Kabul harus menghentikan mobil. Ada papan melintang dengan tulisan âjembatan rusakâ. Lalu ada tanda panah yang menunjukkan jalan alternatif. Kabul dan Wati saling pandang. Wajah Kabul tegang dan merah. Dan pengumaman itu justru membuat Kabul ingin meneruskan perjalanan ke arah jembatan. âAku ingin ke sana, Wat. Rasanya harusâ Wati memahami perasaan Kabul. Lalu mengangguk. Kabul turun dari mobil untuk membuka jalan yang terhalang papan pengumuman. Kembali ke mobil dan langsung melaju lurus. Jembatan Cibawor sudah kelihatan. Tampak mangkrak dan kesepian. Kegagahan yang dulu sempat tampak kini hilang. Dan begitu turun dari mobil di mulut jembatan, Kabul segera tahu bagian mana yang rusak. Lantai jebol pada dua titik dan aspal sudah retak hampir sepanjang lantai jembatan. Kabul meminta Wati tetap di mobil, karena dia mau turun untuk mengintip bagianstruktur jembatan dari sayap fondasi. Tampaknya tak ada maslah. Kerusakan hanya terdapat pada bagian lantai jembatan. Meski demikian rasa kecewa, malu, marah tak bisa dihindarkan. Pahit. Dan Kabul merasa kepalanya pening Hal. 217. ..... âSudah, Mas?â seru Wati dari mobil. Kabul menjawab dengan langkah menuju mobilnya. Wajahnya masih berat. Duduk di belakang kemudi, tapi kunci kontak tak kunjung disentuhnya. Malah memejamkan mata. Lama. Dengan mata terpejam Kabul malah melihat ribuan proyek bangunan sipil yang digarap dengan ke-sontoloyo-an. Orang-orang proyek sudah dikenal masyarakat sebagai tukang suap, tukang kongkalikong, apa saja bisa dilakukan asal dapat untung. Dan korban kegilaan mereka adalah masyarakat umum, karena mutu bangunan yang mereka kerjakan tak mencapai mutu baku. Andrey Pranata Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Analisis Sosiologi Sastra, 2009. Dan ada cerita humor yang sangat populer tentang orang-orang proyek. Suatu saat di akhirat, penghuni neraka dan penghuni surga ingin saling kunjung. Maka penghuni kedua tempat itu sepakat membuat jembatan yang akn menghubungkan wilayah neraka dan wilayah surga. Bagian jembatan di wilayah neraka akan dibangun oleh orang neraka dan sebaliknya. Ternyata penghuni neraka lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya daripada para penghuni surga. Dan ketika dicari sebabnya, ditemukan kenyataan di antara para penghuni neraka banyak mantan orang proyek Hal. 218 Penokohan Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Novel Orang-orang proyek karya Ahmad TohariTak dipungkiri setelah mebaca novel orang-orang proyek karya AT. Di sini saya melihat dan merasakan setiap kegiatan proyek yang dilakukan pihak swasta atau pun pemerintah terjadi jual beli atau upeti. Dan ini bukan terjadi di zaman dahulu bahkan berjalan sampe saat ini. Sering kita lihat berita di media nasional tertangkapnya pejabat pemerintahan oleh lembaga rasuah anti korupsi KPK. Karena melakukan jual beli proyek antara pihak swasta dan pemerintah. Banyak orang pintar atau ahli dalam bidangnya namun akan tetapi dia mendadak ngawur dalam melakaukan pekerjaanya dengan mengurangi bahan -bahan matrial bahkan merubah spek supaya mendapatkan keuntungan kantong pribadi yang mensejahterakan diri sendiri. Menurutku percuma mengambil jurusan tinggi ketika pelaksanaanya dalam menganalisis proyek masih kalah sama yang beranjak dari jadi kenek sampai tukang bahkan mandor didalam dunia proyek apapun. Namun hal - hal ini juga tidak bisa dihindari penekanan demi penekanan dari yang paling atas sampe paling bawah. Bagaimana rakyat mau menikmati kesejahteraan jika masih banyak pasukan penyamun catut mencatut seperti ini. Seharusnya rakyat itu menikmati hasil pembangunan dalam jangka panjang bukan cuma asal sebagai seremonial bahwa pemerintah telah cuma berupaya mengeluarkan anggaran yang jadi bancakan Sosial Yang Terdapat Dalam Novel Orang-Orang Proyek Adalah Kemiskinan, Korupsi, Pelanggaran Terhadap Norma Masyarakat, Pencurian Dan Permasalahan Birokrasi. Problem Sosial Hampir Memenuhi Cerita Novel OOP Dan Semua Problem Itu Terhubung Dengan Pemecahan Masalahnya Melalui Nilai-Nilai Kehidupan Yang Baik. Lihat Humaniora Selengkapnya